Pemilu Bersahabat Berebut Pemilih Milenial
Strategi meraih kemenangan perlu dipersiapkan secara matang, terutama untuk meraih simpati dan dukungan pemilih milenial. Pemilu yang digelar pada 17 April 2019 akan menjadi ajang perebutan suara pemilih milenial. Jumlah mereka mayoritas sehingga menjadi penentu kemenangan peserta pemilu legislatif yang digelar secara bersamaan.
Kaum milenial adalah generasi yang mulai dewasa pada era milenium alias abad ke-21. Mereka lahir sekitar 1980-an. Dalam Pemilu 2019, milenial ialah pemilih yang berusia 17-38 tahun, jumlahnya sekitar 100 juta dari total daftar pemilih tetap versi Komisi Pemilihan Umum yang berjumlah lebih dari 187 juta.
Ciri utama kaum milenial ialah keakraban dan kefasihan mereka dengan teknologi berbasis digital dan internet. Mereka cenderung berpikiran terbuka dan sangat tertarik dengan gagasan baru. Mereka terbiasa hidup dengan perubahan yang cepat.
Saya Saparwadi mengajak kita semua untuk mewujudkan pesta demokrasi yang bersahabat pada Pemilu 2019, mari menjadikan pemilu benar-benar perayaan kegembiraan berdemokrasi. Demokrasi bukan perang, bukan pula permusuhan, melainkan sesungguhnya ajang adu gagasan.
Pemilu sebagai pesta demokrasi yang bersahabat tentu saja mengedepankan cara-cara bermartabat untuk meraih kemenangan. Cara-cara bermartabat itu pasti menjauhkan kita dari politik identitas, menebar kebencian, dan hoaks.
Saudaraku lawan politik dalam pemilu yang bersahabat itu ialah teman adu berpikir dan gagasan. Jika Pemilu 2019 lebih rasional, kian menjauh dari politik emosional, niscaya akan menghasilkan anggota legislatif dan pemerintahan yang berkualitas tinggi dan masyarakat tidak akan pernah terbelah. Pemilu itu cuma instrumen memilih anggota legislatif dan pada akhirnya mereka itu hanya bekerja untuk kemakmuran rakyat
Strategi meraih kemenangan perlu dipersiapkan secara matang, terutama untuk meraih simpati dan dukungan pemilih milenial. Pemilu yang digelar pada 17 April 2019 akan menjadi ajang perebutan suara pemilih milenial. Jumlah mereka mayoritas sehingga menjadi penentu kemenangan peserta pemilu legislatif yang digelar secara bersamaan.
Kaum milenial adalah generasi yang mulai dewasa pada era milenium alias abad ke-21. Mereka lahir sekitar 1980-an. Dalam Pemilu 2019, milenial ialah pemilih yang berusia 17-38 tahun, jumlahnya sekitar 100 juta dari total daftar pemilih tetap versi Komisi Pemilihan Umum yang berjumlah lebih dari 187 juta.
Ciri utama kaum milenial ialah keakraban dan kefasihan mereka dengan teknologi berbasis digital dan internet. Mereka cenderung berpikiran terbuka dan sangat tertarik dengan gagasan baru. Mereka terbiasa hidup dengan perubahan yang cepat.
Saya Saparwadi mengajak kita semua untuk mewujudkan pesta demokrasi yang bersahabat pada Pemilu 2019, mari menjadikan pemilu benar-benar perayaan kegembiraan berdemokrasi. Demokrasi bukan perang, bukan pula permusuhan, melainkan sesungguhnya ajang adu gagasan.
Pemilu sebagai pesta demokrasi yang bersahabat tentu saja mengedepankan cara-cara bermartabat untuk meraih kemenangan. Cara-cara bermartabat itu pasti menjauhkan kita dari politik identitas, menebar kebencian, dan hoaks.
Saudaraku lawan politik dalam pemilu yang bersahabat itu ialah teman adu berpikir dan gagasan. Jika Pemilu 2019 lebih rasional, kian menjauh dari politik emosional, niscaya akan menghasilkan anggota legislatif dan pemerintahan yang berkualitas tinggi dan masyarakat tidak akan pernah terbelah. Pemilu itu cuma instrumen memilih anggota legislatif dan pada akhirnya mereka itu hanya bekerja untuk kemakmuran rakyat
No comments:
Post a Comment