Bangsa Di Tengah Krisis Keteladanan (Selamat Hari Pahlawan)
Bangsa ini telah memiliki 179 pahlawan nasional. Jumlah yang sebenarnya lebih dari cukup sebagai sumber keteladanan bagi anak bangsa. Namun, elite kini justru lebih senang memamerkan nafsu kekuasaan dan keserakahan ketimbang berlomba-lomba untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa seperti yang ditunjukkan para pahlawan.
Bangsa ini kini hidup di era krisis keteladanan pahlawan. Padahal, semestinya dengan semakin banyak jumlah 'pahlawan resmi' semakin banyak pula pelajaran dan nilai keteladanan yang dapat diserap. Begitu banyak nilai luhur dan semangat heroisme yang mestinya bisa diambil dari para pahlawan. Akan tetapi, sekali lagi, para elite tidak juga dapat memetikny, hatiku kesal melihat ulah kalian yang terus menerus mongoyak perasaan publik dengan memainkan isu isu agama dan sebagainya.
Alih-alih mempraktikkan nilai-nilai luhur pengorbanan dan persatuan, kelompok elite malah lebih sering mempertontonkan nilai-nilai buruk keserakahan dan politik kekuasaan. Politik kebangsaan seolah haram tercatat di kamus mereka para pahlawan bangsaku. Mereka berpolitik dengan hawa nafsu bukan karena panggilan jiwa.
Demi ambisi politik, nilai-nilai persatuan kerap ditanggalkan. Perbedaan justru ditonjolkan. Politik pesimisme yang memancarkan ketakutan, ketidakpastian, dan kebohongan terus-menerus digaungkan. Politik hanya dipandang sebagai alat pragmatis meraih kekuasaan, bukan untuk menyejahterakan bangsa.
Jangankan untuk melahirkan pahlawan, untuk mengambil inspirasi dari pahlawan-pahlawan yang sudah lampau pun mereka abai. Mereka justru bersikap dan berlaku berseberangan dengan nilai-nilai kepahlawanan. Kekuasaan mereka tempatkan di posisi tertinggi, kegaduhan untuk merebutnya pun menjadi kreasi tiada henti. Saya jenuh dengan kebisingan yang dibuat.
No comments:
Post a Comment